Tuesday, February 19, 2008

Siciliana Pizza

Kata siapa Pizza bikin genduuuttt??? Hahahahaha....

Itu kan tergantung topping-nya, lagiiii...

Ini aku ketemu resep pizza oke. Belom pernah nyoba sih, sebenernya, tapi kayaknya lumayan nikmat. Bakal aku coba dalam waktu dekat!

--------------
Sumber:
majalah sedap sekejap

Sajian untuk: 6 orang (jadi jangan dimakan semuaa!! Ngga ngaruh dong kalo gitu, dietnya.. hahaha)

ROTI (Kulit Pizza-nya, maksudnya):

Bahannya:

· 500 gr tepung terigu protein sedang

· ½ sendok teh garam

· 1 sendok makan ragi instan

· 250 gr air hangat

· 2 sendok makan minyak zaitun

Cara bikinnya:

1. Ayak Tepung terigu, lalu campurkan dengan garam, ragi instan

2. Masukkan air hangat dan minyak zaitun sambil diuleni selama 10 menit, bulatkan adonan

3. Diamkan adonan selama 15 menit. Giling lalu masukkan dalam loyang pizza diameter 24 cm yang telah dioles minya zaitun

4. Adonan siap ditutup topping

CONCASE (Saus Tomat, maksudnya):

Bahannya:

· 1 buah bawang bombay, cincang halus

· 1 siung bawang putih, cincang halus

· 2 sendok makan minyak zaitun

· 200 gr tomat, diparut

· 5 buah tomat, direbus lalu diparut

· 50 gr pasta tomat

· 1 sendok teh garam

· ½ sendok teh gula pasir

· 1 sendok teh basil

· 2 sendok teh oregano

Cara bikinnya:

1. Panaskan minyak zaitun. Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai layu selama 5 menit.

2. Masukkan tomat parut, tomat kaleng, dan pasta tomat. Masak sampai kental sambil diaduk sampai meletup-letup.

3. Masukkan garam, gula, oregano, dan basil. Aduk sebentar lalu angkat dan dinginkan.

TOPPING (Isinya, maksudnya):

Bahannya:

· 2 sendok makan minyak zaitun

· ½ buah paprika merah, potong panjang

· ½ buah paprika hijau, potong panjang

· ½ buah paprika kuning, potong panjang

· 75 gr pepperoni

· 50 gr jamur kancing, iris tipis

· 1 buah tomat, iris bulat tipis

· 100 gr keju mozarella

Cara bikinnya:

1. Panaskan minyak zaitun lalu tunis paprika merah, hijau, dan kuning juga pepperoni. Angkat setelah layu. Masukkan ke dalam concase. Aduk Rata.

2. Tipiskan adonan pizza oleskan minyak zaitun dan concase

3. Taburkan jamur tomat dan keju mozarella pada kulit Pizza. Oven dengan suhu 200 derajat Celcius selama 20 menit.

Selamat mencobaaaa!!!!

Tuesday, February 12, 2008

Cari Biji Labu sama si Ibu

Owh.. udah lama banget aku nggak nulis lagi.. Terlalu konsentrasi mengecilkan lingkar pinggang nih. Hehehe...

Talking about the diet and everything, aku mau cerita sedikit soal ini. Kemarin mau ketemuan sama Lauritte di Carrefour Lebak Bulus, sekalian cari bahan-bahan makanan diet (cari biji labu di mana yah, ngomong-ngomong... kok kemarin nggak ketemu??). Karena mobil dipakai suami, terpaksa naik bis (pulangnya sih dijemput.. hehe.. love you, baby!). Nah, kejadian di bis ini yang bikin aku ingat lagi tentang rencana menjaga tubuh.

Ada seorang ibu-ibu bertubuh buessarr membawa beberapa belanjaan plus sebuah payung panjang tergopoh-gopoh mengejar bis yang aku tumpangi. Dia sendirian. Otomatis yang bantuin dia naik bis ya beberapa pemuda sekitar, termasuk si kenek bis. Dia kesulitan menjaga keseimbangan tubuh waktu berjalan menuju bangku kosong di dekatku. Untung bis-nya lumayan sepi. Jadi dia bisa bebas menghabiskan satu-tiga-perempat bangku dan sisa seperempat-nya buat taro belanjaan dan payung.

Mendekati tujuannya, dia berusaha berdiri tapi gagal karena nggak kuat menahan beban badannya sendiri. Akhirnya dia teriak aja ke supirnya, “kiri bang... kiri yaa... kiri..!!” Tapi ya secaraaa... itu bis kota yang suara mesinnya sampe dalem, balap-balapan sama suara lalu-lintas di luar, ya nggak denger lah si bapak supir. (Tahu kan, biasanya kita kalo mau turun, udah siap-siap berdiri deket pintu terus begitu mendekati tujuan, kita ketok-ketok atap bis).

Atas usahanya yang berkali-kali, si ibu akhirnya cukup berhasil untuk berdiri dan mendekati pintu (meski harus usaha super-duper-extra karena dia harus ngurusin belanjaannya juga), dan dia mengetok-ngetok atap bis. Sebenarnya ini sedang lampu merah, maka si kenek pun berteriak-teriak “Ayo Bu! Cepetan Bu, mumpung merah!”

“Bentar bang... bentaar....” katanya sambil melangkah hati-hatiiiii... sekali.

”Ayo Bu! Ngga pa-pa Bu! Kaki kiri Bu, kaki kiri!!”

”Bentar bang...” dan langkahnya maish pelan-pelaaaaaann... banget.

Sampai akhirnya si supir ngegas lagi dan bis kembali jalan. Lampu sudah kembali hijau. Polisi di depan kembali melotot sangar. Si ibu kembali terduduk di bangku deket pintu karena nggak tahan lama-lama berdiri.

”Aduh... ibu sih nggak dari tadii!!!” bentak si kenek.

Singkat cerita, akhirnya si ibu turun di Lebak Bulus juga, bareng-bareng sama aku..

Aduuuhhh... jangan sampe deh aku tua nanti kayak gitu.. Kasihan kann.. Kayaknya mau kemana-mana juga repot.

Pelajaran nomor-entah-yang-keberapa: KECILKAN LINGKAR PINGGANG, SUKSESKAN DIET, JALANI HIDUP SEHAT DAN KUAT DARI SEKARANG!!


------------------------------------
::ps:: aku masih butuh belom ketemu biji labu lohh.. dapet di mana ya?? (dan jangan bilang beli labunya terus ambil bijinya.. biji labu tuh harusnya dijual kayak kuaci gitu.. nggak mungkin kan kita beli bunga matahari cuma buat dapetin bijinya doaang..?) Soalnya yang aku denger, biji labu itu bisa meningkatkan kadar magnesium dalam darah, which artinya, mengurangi resiko kematian hingga 40%!! Yeeeaayy... aku udah makin pinter kan soal hidup sehat?? Hahahaha.. (btw, yang punya tips diet sehat silahkan lho bagi-bagi di comment) – hadoh ps-nya kepanjangan ya.. hahahaha

Friday, February 1, 2008

Tentang Lingkar Pinggang


Nggak sangka, resolusi 2008-ku mendapat sambutan yang luar biasa. Well sebenarnya cuma 3 yang comment, tapi nggak tahu kenapa, rasanya menyenangkan sekali. Dapat perhatian dari orang, sekecil apapun bentuknya, tentu akan bikin bibir ini sumringah. Hihihi...

Komen paling lengkap adalah dari Isman. Pertanyaannya detil sekali mengenai ukuran lingkar pinggangku. Menjawabnya pun tentu bukan hal mudah (boyz, please do aware that this kind of thing can be a very sensitive case for women :p).

Anyway aku coba menjabarkan sedikit. Dengan tinggi badanku yang hanya 160 cm ini, semasa gadis (such a wonderful era :p) beratku yang 52 kg itu termasuk ukuran yang ideal. Kalau kita mengacu pada sistem pengukuran body mass index, angka BMI ku cuma 19,5 ini termasuk normal (rangenya antara 18,5 – 25). Nah... dengan BMI (duh pake Bahasa Indonesia aja kali ya... IMT; Indeks Massa Tubuh). Nah... dengan IMT (jeng jeng... pengulangan teks hihihi) 19,5 dan lingkar pinggang semasa gadis yang “cuma” 66 cm, aku termasuk yang memiliki risiko obesitas rendah (ukuran maksimal adalah 80 cm).

Ok, that was the beautiful good old days. Saat ini, setelah ngelahirin anak semata wayangku, berat badanku “sedikit” bertambah jadi 65 kg (hihihi). And you know what, IMT ku sekarang adalah 25,3, atau dengan kata lain.... OVERWEIGHT. Lingkar pinggangku yang sekarang “baru” 74 cm ini (boleh dong menghibur diri sendiri, biar tetap optimis :p) sudah memberiku status baru: Risiko Meningkat. Yes, aku sukses naik lompat kelas. Dari risiko rendah, melewati risiko sedang, langsung menempati posisi risiko meningkat. Sedikit lagi, aku masuk kategori Obesitas I. Ya..ya..ya... kalian pasti akan bilang bahwa it’s just a matter of look, what important the most is inner beauty. But try to ask your lovely wife/girlfriend, what’s status of “obesitas” mean to them.

So, kang mas Isman, targetku tahun ini adalah mengembalikan ukuran lingkar pinggang ke ukuran 70 cm. Nggak terlalu muluk. 4 cm adalah bukan masalah besar (ini juga merupakan upaya membangkitkan semangat diri sendiri hihihi). Berat badan harus bisa mencapai 60 kg supaya IMT-ku kembali normal. Budayakan pola makan sehat, rajin berolah raga, dan satu hal yang juga nggak kalah penting: kurangi kebiasaan ngemil (kata Snydez, ngemil dan menikmati itu beda tipis hihihihi).

PS
Buat Medhy, ini dia postingan terbarunya :D

Special acknowledgement:
Data-data teknis mengenai lingkar pinggang itu aku dapat dari brosur produk Entrasol Diet Nutrition yang dapet dari temen. Produknya bagus apa ndak? Mbuh, aku blom nyoba.

Tuesday, January 1, 2008

Tahun Baru Ukuran Baru

Selamat tahun baru 2008 semuanya. Buat temen-temen yang Natalan, Merry Christmas ya... may all the joy and bless are upon us.

Menyambut tahun baru ini aku udah siapin beberapa resolusi. Let start from the easiest one (ooops, easiest I said? hm... lagi ngelantur kayanya hihihi).

#1
Kurangi Lingkar Pinggang!
Kali ini bener-bener sudah final dan vital. Sepanjang akhir tahun sampai perayaan tahun baru, kerjaanku didominasi oleh ngemil dan makan. Gimana nggak? Beberapa acara tutup tahun, cateringnya aku yang nyediain. Acara kecil memang, antar keluarganya temen deket. Tapi mulai persiapan awal sampai pelaksanaan hampir semua makanan aku cicipi. I really don't want to mess things up. Ini acara sahabatku. Untuk orang yang aku nggak kenal aja aku udah begitu concern sama masalah rasa, apalagi untuk my best friend.
Enough is enough, liburan awal tahun sebagian kuhabiskan jalan-jalan ke mall beli celana baru... bigger size ofcourse!

#2
Benahi Management Catering
Kayanya sudah saatnya aku lebih fokus ke expand the business ketimbang ngabisin waktu ngurus hal teknis. I really have to trust some one. Kaya'nya adek iparku punya potensi kuat. She loves food, she's smart, begaul dan punya taste yang bagus untuk masalah rasa. Dia juga pinter masak.

#3
Ganti Kulkas
(Penting nggak sih ini dimasukin ke resolusi awal tahun? hihihi)
Tapi aku bener-bener ngerasa harus ganti kulkas. Bukan karena mau sok pamer ngasih tahu akan punya kulkas baru, but my old fridge... I love it so much. Itu hadiah perkawinan kami dari alm. om Drajat. Dia deket banget sama aku, sayang usianya singkat. Nggak usah buru-buru ngasih ucapan duka cita, beliau wafat sudah setahun lalu.


Ok, sementara ini cukup 3 resolusi yang harus dijalanin untuk tahun ini. Agak cupu? Well mau apa lagi, I'm a simple person. My wish has never been complicated :).

Monday, December 24, 2007

Victorian Barbeque

Lauritte telfon pekan lalu:

Lau :Bo, tau kan kalo Vitta mau diboyong suaminya pindah ke Hamburg?

Ct :Tau.

Lau :Nah, dia ngajakin kita barbeque-an di rumahnya. Farewell party. Minggu sore.

Ct :Boleh. Kateringnya aku yang pegang? Hahaha.

Lau :Iiihhh…kebanyakan gaul sama ibu-ibu PKK sih lo!

Ct :Abis menu barbeque itu-itu mulu!

Lau :Itu dia. No husband ya darling, jadi no beer, no billiard, no playstation. Ini barbeque kita kasi tema. Vita sih pengen ngedekor tamannya rada-rada Victorian. Bakalan banyak bunga crysant salju dan holland putih. Nah, masing-masing dari kita mesti bawa minimal satu jenis makanan. Biar gak ngebosenin.

Hmm...serius juga nih acara.

Berhubung statusku sebagai pengusaha catering, juga dorongan dari dalam diri dan bakat untuk selalu eksis dan diakui (hehehe), maka aku bertekad mempersiapkan diri menjadi bintang di acara yang cuma akan dihadiri 6 orang temen-temen deketku itu. Makanan yang kubawa jelas harus yang paling oke!

Victorian?

Kayaknya gak pantes deh kalo makanannya red meat. Sebenernya gak papa sih bawa sosis atau daging sapi, toh gak bakalan di tolak juga. Tapi kok sosis dan daging merah rasanya lebih pantas disandangkan dengan celana pendek, bir kaleng dingin, pelampung renang dan frisbee. Apa bebek aja? Hmm...terlalu berat buat pesta taman. Dagingnya rada alot dan kesannya tetep urakan.

Oke. Setelah semedi beberapa hari, akhinya aku menentukan kalo hari minggu besok aku bakalan menyiapkan:

  1. Bapocime

Bukan masakan Padang. Ini nama bikinan sendiri. Kepanjangan dari Baked Potato Cheese and Meat. Kentang direbus lalu dihancurkan sampai sangat halus. Disajikan di piring dalam bentuk seperti kentang utuh. Kemudian slice daging asap dipanaskan dengan mentega dan dipotong kecil memanjang diletakkan di atas kentang. Saus dari lelehan keju dicampur krim disiram di atasnya.

  1. UUD 45

Udang-udang 4 sehat 5 sempurna. Udang rebung merah direbus dulu dengan takaran air yang pas, hingga air rebusannya menguap dan aromanya meresap ke dalam udang. Air rebusan sudah dicampur dengan berbagai rempah-rempah, dan, ini dia, jahe. Supaya dagingnya rasanya rada-rada eksotis gitu. Boleh ditambah daun mint kalo suka, masukinnya pas air rebusannya sudah mau habis. Udah gitu, udangnya dibakar sebentar dengan minyak wijen yang dicampur jeruk nipis. Saat penyajian, tambahkan serpihan bubuk gandum sedikit di atas udang, percantik dengan rosemary dan tentu saja saus tomat hasil nge-blender sendiri.

Hari H. Aku tampil cantik dengan white dress putih. Yang penting Victorian. Gak mungkin tampil bak ratu Inggris juga secara high heel gak mungkin dipake di taman ini. Bisa mblebes.

Yang lebih cantik hidanganku. Dengan penuh percaya diri ku siapkan bawaanku itu di meja yang telah disediakan. Mundur beberapa langkah ke belakang, ah iya, masakanku yang kelihatan paling mantaf.

Tapi tar dulu...kok ada wangi-wangi sedap gitu melintas?

Winda bawa kepiting saus bangkok (Katanya. Aku juga gak tau resep itu.) Kayaknya cuma diolah pake bawang bombay di-oseng. Penyajiannya berantakkan, tapi rasanya nendang tanpa bayangan!

Navvie bawa sup ayam kental dengan saus bawang. Tampilannya juga ancur, tapi dua mangkok lewat gitu aja di mulutku tanpa terasa. You know, sruput-sruput-sruput-ngobrol-nambah lagi dong.

Ah, aku ini memang pengusaha katering kampungan! Hehehe. Buat performance, hidanganku memang kelasnya hotel berbintang, tapi toh rasa bukan cuma diujung lidah dan mata. Banyak orang-orang kita yang gak peduli sensasi di lidah, tapi kalo kuah bakso berhasil bikin panas telinga, pasti disebut nampol!

Maafkan aku dunia silat perkateringan, telah membuatmu malu. Maafkan aku teman-teman karena sempat memicingkan mata. Maafkan aku suami tercinta, berat badanku langsung nambah dua kilo!

Monday, December 10, 2007

S.O.S (Save Our Self-Esteem)

Aaaaa….ternyata! Ini buktinya.

Sales tempat fitness artis - atau biar kayak artis - yang satu ini emang suka maksa.

Katanya dapet no telpon dari temen kantorku (aku yakin sih boongan). Tiap hari nelponiiin mulu. Padahal aku sudah bilang lagi meeting (aku juga boong siy ;p).

Plak! Buat mbak-mbak yang nelponin mulu itu.

Plak plak! Buat orang yang bisa-bisanya ngasi no telponku.

Begini ya Mbak... diriku memang bukanlah artis. Tapi nama tempat mbak bekerja itu diciptakan untuk mengatrol imej bahwa inilah tempat “orang-orang penting” nge-gym. Dan orang-orang penting itu adalah orang-orang yang merasa punya power. Nah, kalo mereka “dipaksa”, otomatis sense of power-nya akan terusik, dan -malah-justru-akan segera membuktikan powernya: untuk tidak memilih tempat bekerja Mbak sebagai tempat fitness dan mbak pun gak jadi dapet komisi.

Atau, dengan teropong penggunaan bahasa lain, tempat bekerja Mbak juga berarti “merayakan”. Ditambah unsur ‘ty’ atau di-bahasa-kan menjadi ‘tas’, (bukan ‘ti’) maka artinya kira-kira ini tempat yang bersifat merayakan.

Maka jamulah kami wahai Mbak-mbak dengan rok mini. Buatlah kami selalu merasa sedang merayakan sesuatu di sana. Bukan dengan terus-terusan menelpon dan membuat kami tersiksa, karena setiap kata yang terlontar dari mulut Anda seakan berkata:

Mayday...mayday...bahaya! Perut Anda sudah membuncit. Lemak cair dan panas mulai mengintip dari pinggang, siap meleber ke mana-mana lalu menghanguskan dan meluluh lantakkan kepercayaan diri Anda! Segera evakuasi dengan menjadi anggota gym kami! Ayo..ayo..

Aku tahu beberapa celana kebanggaanku kini sudah tak lagi muat sejak berhenti kerja. Tapi please, jangan buat aku merasa menjadi mutant yang mengganggu pemandangan sosial banyak orang sampai harus ditolong!

Oya, aku juga tak menemukan satu pun alasan yang membuat aku harus ke gym seramai itu di mall.

Supaya termotivasi karena banyak orang? No thanks. I told you before, saya gak mau menjadikan peristiwa kegendutan sebagai bencana nasional hingga semua orang tau, mesti waspada dan selalu siap dengan simulasi penyelamatan diri: lari-lari di treatmill, satu-dua angkat beban..ah.

Nyari kecengan?

Aduuh, bukannya sok tua, tapi sumpah aku gak lagi tertarik melototin badan-badan bagus dan berkeringat, atau anak baru lulus kuliah lalu bekerja di perusahaan internasional yang sibuk mencet-mencet BlackBerry tiap kali gugup disapa perempuan cantik. Aku gak peduli lagi cowok berpantat seksi. Aku sekarang cuma tertarik dengan pantat suamiku yang mampu menjadikan tubuhnya duduk tegak dengan mata penuh kasih setiap menina bobokan anak kami.

Tapi bukan berarti aku akan membiarkan tubuh ini dipenuhi gelambir yaaa...

But being beautiful – both the process and the result – should be fun, shouldn’t it?

Sunday, November 25, 2007

Di Semarang Semingguan


Okay, this is going to be a very long post. Karena seminggu kemarin aku sempet main-main ke Semarang untuk ngurus order catering and it went up and down like a roller coaster ride. Ada acara seminar dan workshop soal makanan organik yang diadain ibu-ibu PKK di Semarang sana. Seru deh pokoknya. Aku cuma kenal temenku aja sih, yang punya tante salah satu anggota PKK itu. Selebihnya... I have no idea.

Hari pertama
Sampe hotel tempat aku dan crew nginep (ciee.. udah berasa rombongan artis deh), belom ada apa-apa. Cuma sempet buka-buka agenda biar nggak lupa sama rencana awal. Ngumpul sebentar sama anak-anak, terus cek lokasi.

Hari kedua
Tragedi Lele Lempar Lembing kembali terjadi. Waktu 50 ekor Lele hidup di ember siap dieksekusi, tiba-tiba ada satu yang loncat dan bikin panik Mbak Erni. Seperti yang dahulu kala pernah terjadi, sebuah spatula pun meluncur dan melayang-layang di dapur. Persis kejadian waktu arisan di rumah Tante Lia setahun lalu. Aku udah bilang ember tempat nyimpen lele itu harusnya ditutupin aja. Tapi banyak yang ngotot kalo embernya ditutup nanti Lelenya nggak bisa napas. Hellllllooooo....?????? Tu Lele emang mau kita matiin, bukaaaann..???
Walhasil satu hari itu sibuk benahin dapur yang amburadul akibat spatula ajaib Mbak Erni yang menjelajah kemana-mana.

Hari ketiga
Makin repot karena udah tinggal satu hari menjelang acara. Ngawasin gubuk-gubuk yang dibangun di tepi-tepi aula plus memastikan semua bahan-bahan dimasak sematang-matangnya. Alhamdulillah nggak ada kejadian sedahsyat Lele Lempar Lembing. Cuma Pak Unduh yang penasaran sama salah satu Lele di wajan. Dia masih kurang yakin kalo Lele itu udah dimasak. Katanya, “Kok nggak kelihatan garing ya, Mbak Chintya..??” Yaah, secara dia juga udah tua, mungkin kacamatanya perlu diupdate.
Akhirnya Pak Unduh mengambil sebuah sodet dan menyodok-nyodok si Lele dari jauh.
“Le.. Lele...” sapa Pak Unduh ramah dengan logat Jawa. Kikikikikk... kita yang ada di dapur semuanya ngakak habis-habisan. Kalo diceritain mungkin kurang lucu yah.. tapi kalo lihat sendiri pasti ikut ketawa juga. Pak Unduh ini usianya kira-kira akhir 60-an. Masih segar, agak gemuk, dan sangat polos. Hihihihihii... Lain kali yang masak si Lele, Bapak aja deh biar yakin sendiri yaa...

D-Day
Wahhh.. ibu-ibunya ngejreng banget deh. Meski aku juga udah ibu-ibu, tapi kalo ngelihat mereka.. aku berasa masih mudaaaaa banget. Hehehe.. Ibu-ibu PKK kalo ngumpul pasti heboh. Tapi alhamdulillah nggak ada kehebohan yang bikin orang catering kebakaran jenggot. Paling tantenya Icha aja tuh yang sempet kesandung tangga waktu naik panggung buat terima door prize. Yes, dari sejuta ibu-ibu berseragam kuning gambreng itu kok bisa tantenya Icha yang ketulah. Maaf ya Tante, jadi ngomongin Tante di sini deh.. Hihihihi..

Hari kelima
Selesaaaaiii..!!! Cek-cek barang, hitung-hitung duit, dsb, dsb, dsb... Setelah semuanya rapi, beberapa anak catering ada yang balik duluan. Aku serahin tanggung jawab ke Pak Gino aja buat ngawasin anak-anak dan barang-barang. Sementara aku sama Icha diajakin tante Yeni keliling Semarang buat wisata kuliner. Feeling guilty again about my little hunny belly..?? Sekarang sih agak menyesal, tapi pas kejadiannya seru-seru aja tuh. Mampir ke daerah Semawis yang jual-jual jajanan khas Semarang. Tapi karena ada di daerah Pecinan, harus hati-hati milih makanan. Emang ada yang dilabelin ‘halal’ sih, tapi sekarang kan banyak yang label ‘halal’-nya nggak resmi dari MUI.
Dari Semawis kita juga sempet nyobain Tahu Pong di jl. Gajah Mada (kalo nggak salah). Tahu ini kosong, nggak ada isinya (itu sebabnya dikasih nama ‘Tahu Pong’) tapi disajikannya sama udang tepung yang digoreng, plus telur, timun, dan kecap. Hmmmm..!! Jadi pengen lagi!!

Hari terakhir
Pulaaang..!!! Dalam perjalanan ke bandara, kita mampir di Soto Bangkong. Sotonya enaaaakkk... deh! Sambil nyobain, aku meraba-raba bahan dan bumbunya. Mau coba di rumah, siapa tahu bisa dijadikan menu catering kan..


That’s enough for now. I’ve warned you it was going to be a very long post. Tapi seru kaann.. Hihihihihiii...
Tungguin terus ceritaku berikutnya ya...